Emang kalau nggak berdasarkan suara terbanyak, berdasarkan apa lagi sih? Demokrasi ya berarti rakyat yang menentukan. Kalau memang ternyata Jokowi memang tidak sedahsyat sebagaimana kinerjanya selama ini, rakyat pasti akan menghukumnya lima tahun yang akan datang. Rakyat tidak bodoh kok. Kalian saja para orang pintar yang menganggap rakyat itu bodoh. In democracy people get the leaders they deserve —Joseph de Maistre. – View on Path.

Emang kalau nggak berdasarkan suara terbanyak, berdasarkan apa lagi sih? Demokrasi ya berarti rakyat yang menentukan. Kalau memang ternyata Jokowi memang tidak sedahsyat sebagaimana kinerjanya selama ini, rakyat pasti akan menghukumnya lima tahun yang akan datang. Rakyat tidak bodoh kok. Kalian saja para orang pintar yang menganggap rakyat itu bodoh. In democracy people get the leaders they deserve —Joseph de Maistre. – View on Path.

Jul 22. 0 Notes.

Bersiap Untuk Patah Hati

Percayalah, dunia ini akan selalu bikin kamu patah hati. Ada saja hal yang akan mengecewakan kamu, bikin KZL (baca: kesel), nangis sesugukan, bahkan juga bisa bikin kamu mati rasa.

Saya sudah melihat wanitayang jadi membenci lelaki dan memutuskan untuk tak mau lagi bercinta-cintaan dengan lelaki manapun karena dia pernah dikecewakan pacarnya.

Ada juga seorang wanita yang jadi berhati-hati sekali dalam memilih pacar. Kekasihnya itu harus jelas memiliki pekerjaan apa, dan berpenghasilan berapa. Wanita ini tidak matre. Mengapa dia jadi menerapkan standart tertentu dalam memilih pasangan, karena dia pernah dikecewakan ayahnya yang tak bertanggung jawab terhadap keluarga. Padahal sang ayah dulu adalah pahlawan yang dipujanya. 

Seorang pria memutuskan untuk tidak lagi mengejar karir di tempatnya bekerja. Padahal di usia yang muda, dia masih bisa berlari kencang mencapai jabatan direktur. Sebelumnya pria itu adalah pekerja keras, dia berubah setelah anak dan istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kejadian tersebut membuat dia merasa tak perlu lagi semua harta dan jabatan jika itu tak bisa dipersembahkan untuk orang-orang tercintanya.

Tak pernah ada yang berjalan lurus terus di dunia ini. Pasti ada tikungan bahkan belokan patah yang bikin kamu melambatkan hidup kamu bahkan banting setir demi mengikuti belokan kehidupan.

Ada orang yang bisa mengikuti belokan kehidupan. Tapi, ada juga yang terpuruk di belokan itu.

Jika di masa muda kamu semuanya baik-baik saja, bisa jadi ketika kamu tua nanti kamu baru akan dikecewakan dunia. Semasa muda kamu sukses dalam karir dan asmara. Mampu membeli rumah di tengah kota dan memiliki mobil mewah. Kamu punya anak-anak yang kamu cintai. Sayangnya ketika remaja, anak kamu itu terjerumus dalam narkoba.

Atau bisa saja kamu sukses dalam karir, memiliki pasangan hidup yang baik. Tapi sudah bertahun-tahun menikah belum juga diberi keturunan. 

Kalau mau disebutin satu-satu, sih bisa banyak banget kekecewaan yang akan kamu terima selama kamu hidup sampai menutup mata.

Lalu untuk apa hidup dalam dunia yang penuh kesedihan ini?

Heheheh… Tentu saja kita harus terus hidup karena ada banyak kebahagiaan juga di dunia ini. Seperti saat kamu mendapatkan pacar kamu selingkuh dan kamu patah hati, kan nantinya kamu juga akan bertemu pacar baru yang ternyata bisa kamu jauh lebih bahagia daripada si mantan.

Kalau kamu belum diberi keturunan, kamu bisa mengangkat anak. Membesarkan dia layaknya darah dagingmu sendiri, Memberinya pelajaran hidup menghadapi kejamnya dunia. Melindunginya dengan kasih sayangmu dari orang-orang yang akan menyakitinya.

Begitu banyak cara untuk patah hati, tapi begitu banyak juga cara untuk bahagia. Tinggal tergantung kitanya saja mau lebih banyak mengingat kebahagiaan yang kita terima atau lebih banyak mengingat kesakitan yang kita terima dalam setiap langkah hidup kita.

Kalau kamu lebih banyak mengingat kebahagiaan, maka hidupmu akan penuh senyuman. Tapi jika lebih banyak mengingat kesakitan hidup, maka kamu akan sangat kecewa dengan keadaanmu sekarang ini. Bisa saja setiap persoalan kamu pandang secara negatf terus. Karena sudah berpikir negatif, yang positif akhirnya bisa jadi negatif juga. Kacau kan…

Jadi biarlah patah hati menjadi suatu olahraga untuk hati kamu agar dia makin kuat. 

Dibahagianya hidupmu sekarang, bersiaplah selalu untuk patah hati. Persiapan itu selalu penting, apalagi dalam persoalan patah hati.

Jul 20. 0 Notes.

Minyak Berkumpul Dengan Minyak

"Air berkumpul dengan air, minyak berkumpul dengan minyak, setiap orang berkumpul dengan jenis dan wataknya." —Tan Malaka.

Saya agak kurang sedikit memahami maksud perkataan Tan Malaka tersebut sebenarnya tentang apa. Bisa jadi maksudnya orang baik akan berteman dengan orang baik, dan orang jahat akan berkumpul dengan orang jahat. 

Saya tidak mau berpanjang lebar membahas kalimat itu, yang bisa bikin perdebatan panjang lebar. Yang pasti, saya suka kalimat dari Tan Malaka itu. Bagaimanapun juga, kita lebih senang berkumpul dengan orang yang sepikiran sama kita. Yang kita anggap baik dan nggak jahat. Kalaupun ada satu dua teman kita yang jahat, sebagai teman yang baik kita pasti akan selalu mengarahkan dia kembali ke jalan yang benar.

Walaupun kita lebih senang berkawan dengan orang yang sepikiran dengan kita, tapi kawan yang tak satu ide dengan kita baiknya jangan dihindari. Karena orang-orang yang berbeda ini bikin hidup lebih berwarna. Pacaran sama orang yang apa-apa samaan sama kita aja kurang seru kok. Percaya deh…

Saya mempunyai beberapa orang teman yang pandangan hidup mereka berbeda jauh dengan saya. Perbedaan ini sering kali bikin saya dan mereka berdebat.

Perdebatan ini bisa mulai dari yang nggak penting sampai yang penting. Perdebatan ini sebenarnya ajang saya dan beberapa teman ini saling bertukar pikiran. Dengan cara ini masing-masing dari kami dapat melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.

Saya selalu ingat sebuah quote yang berbunyi: setipis apapun tempe dipotong, akan selalu ada dua sisi bagian dari tempe itu. Maksudnya, segala sesuatu selalu ada dua sisi cerita.

Buktinya, pada masa pilpres 2014, kedua kubu capres dan cawapres sama-sama sudah mendeklarasikan dirinya sebagai pemenang. Padahal hasil kemenangan mereka adalah baru dari hasil hitung cepat dari pelabagi lembaga survei, buka pengumuman dari KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Dari setiap kubu capres dan cawapres sama-sama mengatakan kalau lembaga survei yang memenangkan mereka adalah lembaga yang kredibel. Setiap kubu juga melontarkan tuduhan kalau lembaga survei yang memenangkan capre dan cawapres lawannya adalah lembaga survei pesanan. 

Dari sini jelas ada dua cerita yang membuat kita yang melihatnya jadi bingung mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini memang sengaja dibuat oleh salah satu capres dan cawapres. Tujuannya jelas agar masyarakat bingung dan suara yang tidak sebenarnya jadi bisa bermain di KPU.

Cerita manakah yang paling benar dari semua itu masih wallahualam…

Kamu bisa saja mempercayai suara minyak karena kamu berkumpul dengan kawanan minyak. Bisa juga kamu mempercayai kelompok air karena berada di kawanan air. Terserah saja. Tapi, pastikan dulu apakah kamu benar-benar minyak dan bukan air. Begitu juga sebaliknya.

Jul 14. 0 Notes.

Berantem Karena Pilihan

Tahun 2014 di Indonesia adalah tahun politik. Puncak politik ini akan terjadi pada 9 Juli 2014, di mana rakyat Indonesia akan memberikan suaranya untuk memilih Presiden Indonesia untuk masa jabatan 2014-2019.

Selain kesibukan para Capres-Cawapres serta tim sukses mereka, rakyat yang secara sukarela (benar-benar nggak dibayar, bukan ngakunya relawan tapi ternyata dibayar) mempromosikan mereka juga ramai di media sosial.

Beberapa orang dari yang sukarela ini adalah saya dan juga beberapa teman saya. Di media sosial kami seperti Twitter, Path, Facebook, dan Instagram, kami sudah jelas-jelas memberikan dukungan kepada siapa.

Ada yang kepada nomor satu, ada juga yang untuk nomor dua. Alasan kami untuk memilih itu juga ada. Dan alasan-alasan inilah yang kadang bisa bikin ribut antar teman.

Ribut antar teman karena masalah capres ini sebenarnya norak banget sih. Temenan itu kan harusnya bisa menerima perbedaan pilihan dan juga pendapat temannya itu. Ngapain juga jadi berantem karena berbeda. Padahal teman nongkrong bareng, dulu sekolah atau kuliah bareng, jadi musuhan cuma karena masalah capres. Ya, elah Bro… Capek deh!

Padahal teman beragumen itu adalah kawan diskusi yang baik. Kalau seorang teman selalu meng-iya-kan apa yang kamu katakan. Bisa jadi sebenarnya teman itu sudah malas sama semua omongan kamu, respon “iya” dia itu cuma karena nggak enak doank. Saat itulah kamu harusnya sadar kalau kamu itu termasuk golongan orang egois dan lama-lama akan kehilangan teman satu persatu.

Tapi masalah capres ini emang-emang benar edan sih. Kayaknya udah sampai mulut berbusa deh ngomongin masalah capres ini. Setiap saya ngumpul sama teman-teman saya, bahasnya juga masalah ini. Ketemu orang kantor juga sama topiknya. Di rumah dengan orang tua saya ada aja obrolan capres. Inilah obrolan lima tahun sekali yang memang selalu hangat. Kita membahasnya, karena Presiden yang akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan akan sangat berpengaruh terhadap nasib kita ke depannya.

Kalau ada yang bilang, “siapapun presidennya kalau emang kerjaannya jualan gorengan, ya, tetap aja jualan gorengan.” Menurut saya itu salah banget! Kalau gara-gara sang Presiden hebat dalam memimpin negara Indonesia dan rakyat jadi sejahtera, jumlah orang yang beli gorengan dia kan bisa tambah banyak. Mungkin kerjaan utama dia tetap jualan gorengan, tapi di kampung dia punya banyak sawah yang bisa menghidup warga kampungnya. Jadi, seorang Presiden, sebagai pemimpin negara, tentunya amat berpengaruh kepada nasib kita juga.

Yang pada berantem karena masalah capres ini, entah setelah tanggal 9 Juli 2014, akan baikkan dan mulai ngobrol-ngobrol lagi sama kawannya tidak… Ya, semoga aja jadi baikkan sih. Ngapain juga kan berantem.

Sambil menulis ini saya melihat media sosial milik saya. Ada yang mempostingkan sebuah gambar berwarna dasar hitam dengan tulisan putih yang berbunyi: “Ya, Tuhan, percepatlah tanggal 9 Juli. Saya sudah muak dengan kampanye ini.” Saya pun memberikan komen di gambar tersebut: “#mungkindialelah.

Jul 06. 0 Notes.
Batman Art. #batman #batmananversary #art #aniversary #picture #bat #jakarta #indonesia #exhibition

Batman Art. #batman #batmananversary #art #aniversary #picture #bat #jakarta #indonesia #exhibition

Jun 28. 0 Notes.

Orang Pelit

Saat menjemput teman saya di sebuah mall, bukannya mendapat sambutan ramah, saya malah menerima kemarahan teman saya. Sambil marah-marah teman saya bilang gini, “lo mau tahu gak gimana supaya lo jadi orang kaya? Gampang! Lo cukup jadi pelit aja kayak dua orang itu.” Dia ngomong gitu sambil menunjuk dua orang kakak beradik yang memang udah tajir dari kecil.

Kedua kakak beradik yang sama-sama berjenis kelamin wanita itu memang kaya banget walau kekayaan mereka berasal dari orang tuanya. Gaya hidup mereka mewah; makan selalu di restoran bergengsi dan pakai barang-barang branded yang ngelihat harganya aja udah bikin sesak pipis.

Meski tajir dan jelas-jelas punya uang. Kedua kakak beradik ini pelitnya bisa bikin orang kere kayak saya merasa lebih kaya dari mereka.

Untuk keperluan pribadi, kakak beradik ini nggak begitu pelit. Tapi kalau untuk masalah yang berhubungan dengan orang lain, mereka ini bisa pelit sekaligus culas. Seperti apa yang dialami teman saya yang membuatnya misuh-misuh sama kakak beradik ini.

Jadi ceritanya, teman saya dan kakak beradik itu lagi mau jalan-jalan ke sebuah mall di Jakarta Pusat. Mereka bertiga lalu pergi dengan menggunakan taksi. Sesampainya di tempat tujuan, kakak beradik itu sama sekali tidak ada niat untuk ikut patungan membayar taksi. Kata teman saya sih, “gila, buka tas buat ambil dompet aja tangannya nggak gerak donk. Mereka cuek aja lihat gw bayar tuh taksi.” Dari nada ceritanya, saya tahu teman saya nggak ada ikhlas-ikhlasnya membayari taksi itu.

Setelah jalan-jalan di mall itu, dia merasa perutnya minta diisi.  Teman saya yang berjenis kelamin wanita tulen dan bukan hasil operasi transgender ini memang tidak bisa menahan lapar. Dia kalau sudah lapar harus makan. Kalau nggak makan, dia bisa bikin orang disekitarnya jadi makan hati mendengar omongannya. 

Dia lalu mengajak kakak beradik ini untuk ikut makan. Keduanya menolak, karena mereka sudah ada janji dengan temannya mau makan di tempat lain. Karena janji dengan temannya masih dua jam lagi, kakak beradik itu ikut juga ke restoran sushi pilihan teman saya.

Keduanya memang tidak ikut makan, cerita teman saya. Keduanya hanya memilih untuk minum. Saat tagihan makan minum itu keluar, kakak beradik ini sama sekali juga tak ada niat untuk membayar apa yang sudah mereka nikmati. Teman saya langsung gondok total saat itu. Dengan tidak ikhlas, dia kembali membayari minuman keduanya.

Mendengar cerita teman saya itu di dalam mobil yang sedang melaju lambat memecah macet di Jakarta, saya akhirnya ketawa-ketawa sendiri saja. Dan dia makin kesal saja melihat kelakuan saya itu.

Sebelum dia menghajar saya sampai babak-belur, cepat-cepat saya menyelesaikan tawa saya dan bilang, “gak semua orang kaya pelit kayak gitu. Yang lebih kaya tapi lebih pelit lagi juga banyak kok… Wahahahha.” Tanpa bisa ditahan lagi, lengan saya dicubit teman saya itu.

Dalam berbagai hal, memang kerap saya menemui orang yang kaya tapi pelit, dan yang kehidupannya biasa-biasa saja malahan nggak pelit. Ini beneran pelit ya, bukan hidup sederhana. Karena hidup sederhana dan pelit walau beda-beda dikit, tetap saja BERBEDA!

Saya juga menemukan orang yang sebenarnya biasa saja secara ekonomi, malah lebih nggak perhitungan dalam hidup. Kalau ada uang hari ini, bisa saja habis hari ini juga. Cenderung boros memang. Tapi menurut orang-orang seperti ini, uang itu ya buat dipakai untum membeli barang yang perlu-perlu. Kalau memang masih ada sisa ya, baru dipakai buat beli barang yang nggak penting.

Orang yang nggak pelit model gini, hidupnya penuh seyuman. Tapi banyak juga senyum kecutnya saat tahu orang lain kok bisa pada kaya, sedangkan dia masih begitu-begitu aja hidupnya. Orang model seperti ini contohnya adalah saya. 

Saya nggak kaya banget. Cenderung kere malahan. Makan di restoran mewah juga jarang-jarang. Kebanyakan makan di rumah dan kalau di luar juga makan di warteg atau di pinggiran jalan. Saya sudah terbiasa membeli barang yang sesuai kebutuhan saja. Kecuali ada uang lebih. Biasanya sih, uang lebih ini jarang adanya…. Dompet kosong itu pedih Jendral, dan rasanya itu di sini (sambil kedua telapak tangan memegang dada sebelah kiri).

Lalu apakah semua orang kaya itu pelit? Nggak juga kok. Ada teman saya yang ketajiran sama keroyalannya seiring sejalan. Banyak juga kan orang yang makin kaya makin rajin bersedekah. 

Jadi kayaknya, pelit nggak bakalan bikin jadi kaya deh. Pelit itu memang bawaan orangnya aja. Kalau emang dasarnya pelit dan nggak mau berubah ya selamanya aja pelit. Nggak ada hubungannya bisa jadi kaya karena pelit.

Yang pasti, orang boros itu nggak pernah kaya. Semoga kamu tidak masuk ke dalam golongan orang-orang pelit. Jadi orang yang sederhana aja yuk!

Jun 23. 0 Notes.
Mungkin tiga orang inilah yang akan membawa perubahan di Indonesia. Mungkin. – View on Path.

Mungkin tiga orang inilah yang akan membawa perubahan di Indonesia. Mungkin. – View on Path.

Jun 19. 0 Notes.

Mendadak Ngerti Politik

Tahun 2014 ini memang tahunnya Politik. Setelah 9 April 2014 kemarin diselenggarakan pemilihan umum legislatif untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2014-2019. Maka pada 9 Juli 2014, akan diadakan pemilihan umum Presiden untuk masa jabatan 2014-2019.

Ada dua pasang calon yang maju pada pilpres kali ini. Di nomor urut satu ada bapak Prabowo dan Hatta Rajasa. Sedangkan di nomor kedua adalah bapak Jokowi dan Jusuf Kalla. Karena cuma ada dua pasang calon, maka pemilu ini akan sengit sekali. Dan sudah pasti tak ada putaran kedua.

Karena Pilpres kali ini adalah pertama kalinya di jaman sosial media (Facebook, Twitter, Path) sedang happening, maka semarak kampanyenya juga ramai di sosial media.

Saking riuhnya Pilpres, perhelatan Piala Dunia 2014 di Brazil jadi nggak bergitu terdengar gaungnya. Semua lebih pentingin Pilpres.

Dari warung kopi, warteg, restoran fast food, restoran mewah, rumah-rumah warga, arisan, sekolahan, dan yang lain sebagainya sibuk membahas Pilpres. Mendadak orang-orang pada ngerti politik. Kalau nggak ngerti, ya cuman dengerin aja sambil kasih pendapat sekedarnya. Yang penting bersuara.

Ibu-ibu pengajian di sekitaran rumah saya ramai yang mendukung Prabowo. Saya sering mencuri dengar dukungan itu kalau di rumah saya sedang ada pengajian mingguan yang diadakan Ibu saya. Kebetulan juga markas pemenangan Prabowo-Hatta berada tak jauh dari rumah saya. Di Rumah Polonia, Jalan Cipinang, Cimpedak I No 29, Cawang, Jakarta Timur, yang biasanya sepi, sekarang jadi ramai sekali. Tidak hanya massa pendukung Prabowo-Hatta yang berkumpul, penjaja makanan dan minuman juga tak kalah banyak di sana.

Di jaringan sosial media milik saya sendiri ramai yang mendukung Jokowi. Mereka ramai-ramai dan secara sukarela mengganti avatar akun sosial medianya dengan tambahan tulisan angka 2 dengan latar belakang warna merah sebagai bentuk dukungannya terhadap Jokowi.

Meme-meme lucu juga banyak bertebaran di Path dan Instagram. Meme ini kebanyakannya sih ngejelek-jelekin Prabowo dan memuji Jokowi. Jarang saya temukan yang secara kreatif, lucu, dan unik memuji Prabowo dan menjelekkan Jokowi. Kalau ada yang meme yang menjelekkan Jokowi, biasanya meme itu dibuat tidak lucu, unik, dan kreatif.

Media massa juga mulai terbelah-belah. Kelihatan sekali kalau media massa itu ingin menonjolkan salah satu calon Presiden. Sepantauan saya sih hanya ada beberapa media —masih bisa dihitung pakai jari tangan— yang betul-betul tidak memihak salah satu capres.

Pemilihan Presiden ini tentunya amat penting. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh Presiden terpilih nantinya. Walau ada jargon: siapapun Presiden yang terpilih nantinya, masalah isi dompet tetap urusan dewe-dewe. Tapi, sesungguhnya karena kepemimpinan seorang Presiden yang piawailah isi dompet rakyat bisa jadi penuh uang atau cuma berisikan KTP saja.

Tugas Presiden memang berat, karena itu sebagai rakyat kita harus bisa memilih Presiden yang akan siap memikul beban tersebut. Ya, sebenarnya saya masih ragu sih, apa dari kedua pasang calon ini ada yang sanggup dan amanah melaksanakan janji-janjinya. Soalnya, mereka berdua sibuk jualan kesederhaan dan ketegasan. Itu saja yang menjadi nasinya, sedangkan program lainnya cuma lauk pauk di pinggiran nasi.

Walau saya merasa keduanya tak ada yang begtu oke, saya harus memilih yang terbaik diantara yang terburuk. Suara saya tak boleh sia-sia dan berkumpul bersama kelompok golput. Mari memilih Presiden Indonesia untuk masa depan bangsa yang lebih baik.

Jun 15. 0 Notes.

Goyang mang! (at Musium Fatahilah Kota Tua)

Jun 07. 0 Notes.

Mercusuar Cikoneng

image

Pada setiap hari Minggu, keluarga saya selalu berpergian bersama. Bisa pergi ke mall, melihat pameran, pergi ke museum, makan bersama di luar, mengunjungi obyek wisata, dan yang lain sebagainya. Pokoknya hari Minggu itu hari keluarga, dan tidak boleh diganggu dengan yang namanya pekerjaan.

Setelah bingung mau pergi ke mana, pada hari Minggu  kemarin kami memutuskan untuk pergi ke Anyer, Banten. Cukup lama memang kami sekeluarga tidak bermain ke daerah sini, ada sekitar tiga tahun yang lalu kami terakhir ke sana. Padahal tempat itu tidaklah begitu jauh. Dihitung dari pintu masuk Tol-nya yang berada tak jauh dari Mall Taman Anggrek, jaraknya hanya 92 kilometer. Tapi karena keluarga saya bukanlah penyuka pantai, kami jarang berdamawisata ke daerah ini.

Kami berangkat dari rumah jam setengah dua belas siang, dan sampai di daerah Anyer itu jam satu siang. Hari itu jalanan menuju Anyer memang lenggang sekali, makanya saya bisa ngebut ketika nyetir.

Saya agak terpukau dengan bentuk daerah Anyer yang sekarang jauh lebih bagus dibandingkan tiga tahun lalu. Jalanannya sudah nggak bolong-bolong lagi, restauran dan hotel-hotel juga sudah banyak yang baru. Pantainya juga bersih sekarang, warga masyarakat di sana juga ramah-ramah dan sopan.

Setelah berpergian dan masuk ke beberapa pantai di daerah sana, kami akhirnya tanpa sengaja menemukan sebuah mercusuar peninggalan jaman Belanda. Mercusuar itu merupakan penanda titik nol Jalan Anyer-Panarukan —Jalan Raya pertama di Pulau Jawa yang menghubungkan Anyer (Ujung barat Pulau Jawa) di Prop Banten dengan Panarukan (Ujung Timur Pulau Jawa) di Prop Jawa Timur sepanjang kurang lebih 1000 km.

Mercusuar Cikoneng ini dijaga oleh seorang pria yang sudah tua. Kata dia, mercusuar ini memiliki tinggi 75,5 meter. Mercusuar ini tak lagi berfungsi. Dulunya mercusuar ini berfungsi sebagai pemandu navigasi kapal laut yang berlayar di sekitar pantai barat jawa yang penuh dengan karang yang berbahaya. Jangkauan cahaya dari mercusuar ini hingga mencapai 20 mil.

Penjaga tua itu menawarkan kepada kami untuk naik ke atas mercusuar itu. Dia mematok harga lima ribu rupiah perorang untuk yang ingin naik ke mercusuar Cikoneng.

Saya yang penasaran ingin melihat daerah Anyer dari atas mercusuar, lalu pergi mencobanya. Untuk naik ke atas tidak ada lift atau eskalator, saya harus meniti anak tangga demi anak tangga demi mencapai puncak mercusuar.

Ada enam belas lantai yang harus dilewati untuk mencapai puncak. Setiap lantainya memiliki tujuh belas anak tangga. Berarti ada 272 anak tangga yang akan saya naiki. 

Pada tujuh lantai pertama perjalanan masih biasa saja, pada lantai kedelapan perjalan mulai terasa berat. Kaki-kaki saya agak melemah, walau semangat masih ingin terus naik ke atas.

Berbekal semangat kaki saya terus melangkah ke atas. Pegal di betis dan paha tak menjadi soalan. Diantara anak tangga yang terbuat dari besi-besi tua yang masih kokoh itu kaki saya terus berpijak.

Cobaan yang paing berat adalah dilantai empat belas, tinggal dua lantai sebelum mencapai puncak. Di lantai itu kaki saya sudah lemas sekali. Mau berhenti dulu tapi tanggung dikit lagi juga sampai, mau istirahat dulu juga sayanya yang malas, dan nggak mungkin juga untuk turun ke bawah lagi. Dengan napas yang kurang teratur saya naik lagi ke atas, kaki yang lemas dipaksakan terus saja, lagian tinggal dua lantai lagi pikir saya. Nanti di atas kan bisa istrihat sambil duduk.

Sesampainya di atas saya terpukau sekali. Betapa indahnya pemandangan dari puncak mercusuar Cikoneng ini. Segala susah payah untuk mencapai puncak terbayar sudah. Saya dapat melihat sunset dan juga kapal-kapal yang ada di sekitaran pantai Anyer dari ketinggian. 

Saat di atas puncak mercusuar ini saya kemudian berpikir kalau perjalanan saya tadi sama seperti perjalanan hidup saya. Bedanya, saya tidak tahu ada berapa lantai yang harus saya lewati untuk mencapai puncak.

Bisa saja dalam hidup saya berhenti di lantai empat belas, dan memutuskan untuk akhrinya turun ke bawah. Padahal tinggal dua lantai lagi saya bisa mencapai puncak dan menikmati segala jerih payah saya.   

Dari atas ketinggian mercusuar itu saya bersyukur dan berjanji untuk tidak mudah menyerah dalam hidup. Karena saya yakin akan ada balasa atas kerja keras yang saya lakukan. Seperti juga saat meniti keenam belas lantai yang memang amat menyiksa, tapi menikmati pemandangan dari puncak mercusuar Cikoneng membuat segala susah itu terbayar tuntas…tas..tassss…

Berada di atas puncak mercusuar Cikoneng memang menyenangkan, tapi saya tahu tak mungkin saya berada di atas terus. Saya juga harus turun ke bawah. Meniti tangga demi tangga ke bawah. Dan tidak seperti naik, saat turunnya saya jauh lebih cepat dan tidak begitu melelahkan sebagaimana ketika naik. 

Ya, hidup memang seperti itu: naik susah kalau turun mudah. Apalagi kalau turunya tergelincir, udah cepat dapat sakitnya juga lagi.

Jun 02. 0 Notes.
next »