Teman Berbagi Hidup

Siapapun orangnya, baik orangnya itu pendiam, apalagi kalau yang suka ngobrol. Pasti memerlukan teman berbagi dalam hidupnya. Mulau berbagi suka, berbagi duka, berbagi cerita, berbagi tawa, dan berbagi persoalan-persoalan lainnya yang beragam.

Saya mempunyai tante yang pada usianya sekitar 50 tahunan, memutuskan untuk pindah rumah dari pusat kota Jakarta ke daerah pinggiran Jakarta. Alasannya daerah pusat kota Jakarta sudah terlalu sumpek. Lagipula dia dan suaminya ingin menjual rumah tempat tinggal mereka selama ini juga untuk membelikan ketiga anaknya rumah lain, yang dibagikan sebagai warisan.

Tempat tinggal mereka yang baru itu memang asri; masih banyak pepohonan di sekitarnya. Saat mereka baru tinggal di sana masih sedikit sekali tetangga yang di kanan kiri rumah tante saya itu. Setahun berlalu, dua tahun berlalu, mulai penuhlah komplek perumahan tersebut.

Seperti juga kebanyakan daerah pinggiran Jakarta yang dihuni para keluarga muda. Komplek perumahan tante saya itu juga sama saja. Jadilah tante saya dihuniannya yang baru tak memiliki teman berbincang. 

Kalau keluarga saya datang mengunjunginya, dia selalu banyak bercerita. Acap kali dia juga mengungkapkan kerinduan sama tetangga di rumahnya yang dulu, dan menanyakan kabar mereka kepada mama saya. Kebetulan, rumah tante saya yang dulu itu letaknya tak jauh dari rumah saya.

Tante saya dihunian barunya yang berudara bersih malah terlihat makin tua. Dia kesepian.

Ada pula om saya yang juga memutuskan untuk pindah ke daerah pinggiran Jakarta. Dia yang telah pensiun memang ingin tinggal dilingkungan baru yang lebih asri.

Tidak seperti tante saya yang tinggal dilingkungan komplek keluarga muda. Di komplek perumahan om saya itu, kebanyakan penghuninya adalah para pensiunan. 

Jadilah om saya betah sekali dilingkungan barunya itu. Dia bisa melakukan olahraga bersama para pensiunan lainnya di sana. Membicarakan anak-anak mereka, kedigdayaan mereka di masa muda, politik, dokter-dokter bagus dan juga pengobatan alternatif untuk mengobati sakit mereka. Dengan adanya teman ngobrol, om saya itu masih terlihat sehat, Senyumnya selalu mengembang, dan memperlihatkan giginya yang mulai rontok dimakan usia.

Dari hidup om dan tante saya itu, saya belajar bahwa teman untuk berbagi hidup amatlah penting. Apalagi saat usia sudah tua, ketika pekerjaan tak ada lagi yang perlu dilakoni. Berbincang dengan orang lain terasa layaknya tamasya di taman surgawi.

Saya juga mempunyai tiga orang teman yang selalu menyenangkan untuk memberi nasehat-nasehat untuk hidup saya. Mereka umurnya memang lebih muda dari saya. Meski begitu, pengetahuan dan pandangan mereka terhadap berbagai persoalan sudah cukup mantap. Jadi saya berumur lebih tua dari mereka, merasa memiliki lawan berbicara yang sepadan.

Palingan kalau lagi membahas hal-hal politik, mereka lebih senang mendengarkan saya berbicara. Sambil menanyakan ini-itu kalau ada yang mereka tak mengerti. Saya sendiri akan dengan khusuk menyimak pembicaraan mereka kalau sedang membicarakan club, kafe, dan tempat makan baru yang sedang hype sekarang ini.

Walau kami bukan manusia yang sempura. Sebagai teman yang baik, kami kerap juga membicarakan orang lain. Mulai dari cara berpakaiannya, kelakuan minusnya, dan hal-hal lainnya yang bisa membuat kami akhirnya tertawa bersama. 

Hampir setiap akhir pekan kami berkumpul bersama. Kecuali kalau pekerjaan memenjarakan kami sejenak dari pertemuan itu.

Dari ketiga teman saya itu, banyak hal yang bisa saya pelajari. Lebih penting daripada itu semua. Berkat mereka saya bisa melupakan sejenak masalah hidup saya. Menertawakan kebodohan yang kami masing-masing lakukan dalam hidup. Berbicara serius tentang nasib bangsa ini ke depannya. Mengutuk atau memuji film yang baru kami tonton. Atau juga membicarakan tentang dinamika keluarga kami masing-masing.

Bisa dikatakan saya dan ketiga teman saya itu seperti kopi susu. Bukan hanya karena kulit saya hitam dan mereka bertiga putih. Teman yang pas itu memang seperti secangkir kopi susu yang meski berbeda rasa dan penampilan, tapi saat sudah bersama keduanya akan bersatu. Warna kopi dan susu akan membentuk warna baru. Rasa campuran keduanya juga akan menghadirkan cita rasa baru. Seperti itulah pertemanan seharusnya tercipta.

And that’s how it goes kids. The friends, neighbors, drinking buddies and partners in crime you love so much when you’re young, as the years go by, you just lose touch. You will be shocked when you discover how easy it is in life to part ways with people forever. That’s why when you find someone you want to keep around, you do something about it.” —Ted Mosby, How I Met Your Mother.

Apr 20. 0 Notes.

Pejuang Jarak

Hubungan percintaan jarak jauh atau Long Distance Relationship A.K.A LDR diperlukan komitmen lebih daripada sekedar cinta. Ada kepercayaan, kesabaran, dan kemauan rela berkorban dalam menjalani LDR.

Kalau nggak ada kepercayaan, baru sebentaran LDR-an pastinya udah putus nih. Kalau dikit-dikit cemburuan. Dengar gosip dikit udah panasan, dan nuduh yang nggak-nggak. Ya, mendingan jangan LDR-an. Bikin capek perasaan doank kalau pacaran jarak jauh tanpa kepercayaan.

Kesabaran juga penting nih dalam hubungan LDR. Kalau nggak sabaran dan akhirnya ketemu sama dia terus tiap harinya. Lama-lama itu udah bukan LDR namanya. Sekalian aja pindah ke kota tempat dia tinggal. LDR itu perlu kesabaran tingkat tinggi. Percayalah, jarak itu hanya pemisah hati yang bersatu.

Kemauan rela berkorban uang untuk mengunjugi satu sama lain dengan membeli tiket kereta api, bus, kapal laut atau pesawat  itu juga penting lho.. Biasanya yang berkorban begini tuh yang cowok. Dia pasti samperin ceweknya entah itu di luar kota ataupun di luar negeri. 

Di jaman sekarang orang-orang yang pada LDR-an itu sudah lebih mudah. Berkat kemajuan teknologi, saling bertegur sapa sudah setiap saat tanpa perlu keluar pulsa berlebih. BBMWhatsapp, Skype atau Line sudah amat membantu memperdekat jarak yang jauh. Tinggal langganan paket bulanan yang bisa internetan, udah bisa memakai aplikasi tersebut di ponselnya. Kalau lagi bokek pulsa, tinggal ke warnet yang murah, udah bisa Skype-an sama pacarnya. Bisa saling bertatap muka via layar monitor dan saling cium layar monitor masing-masing juga.

Karena faktor-faktor kemudahan inilah, orang jaman sekarang itu banyak banget yang pacarannya pada LDR. Mungkin mereka-mereka itu menganut aliran: kalau ada yang jauh kenapa harus yang dekat. 

Saya sendiri sudah dua kali berpacaran secara LDR. Kalau dulu tuh belum seenak sekarang LDR-annya. Mau kirim-kiriman pesan aja harus pakai SMS. Kalau telponan rooming. Bikin tagihan telpon lumayan bengkak. Kalau mau saling bertemu muka ya pakai Yahoo Messenger atau MSN. Belum lagi internet jaman dulu belum sekencang sekarang. Kadang pas koneksi internetnya lagi ngelag, ihat muka pacar suka patah-patah kayak goyangnya Anisa Bahar.

Setelah dua kali menjalani hubungan LDR, kayaknya kalau sekarang disuruh pacaran jarak jauh lagi, saya sih ogah banget. Bukannya apa-apa, tapi kalau nggak bertemu pacar seminggu sekali aja rasanya itu agak-agak kurang afdol deh pacarannya. Walau berkat kemajuan teknologi hal itu bisa di atasi, dan komunikasi juga bisa setiap saat. Saya sudah menjadi orang yang lebih suka mengobrol itu sambil bertatap muka secara langsung. Bukan antara layar sama layar.

Jalan bareng, nonton bareng, makan bareng, membahas berbagai hal yang sedang terjadi dikehidupan dia dan saya secara bareng-bareng, itu tidak bisa dilakukan setiap saat atau minimal seminggu sekali sama orang yang pacarannya LDR.

Mantan saya LDR-an dulu pernah bilang, “yang paling enak dari LDR-an itu adalah perasaan saling merindunya. Kalau ketemuan terus tiap hari nanti malahan cepat bosan.” Saya dulu mengamini apa yang dikatakannya. Tapi sekarang saya sadar itu adalah sikap untuk menyenangkan hati kami yang berpacaran jarak jauh. Kalau sudah menikah, hampir setiap suami-istri juga bertemu setiap harinya. Dan mereka nggak bosan-bosan tuh.

Orang-orang yang melakukan LDR itu layak disebut pejuang jarak. Mereka memperjuangkan jarak yang ada menjadi seakan tidak berjarak. Kangen, saling cemburuan, menghabiskan banyak waktu sendirian sambil senyum-senyum sendirian di depan layar ponselnya karena lagi chit-chat sama pacar, pasti sering dialami sama mereka yang LDR-an.

Jodoh terkadang memang berjarak. Tapi selama hati saling bertaut, berpacaran jarak jauh bukanlah suatu kendala. Selamat bertempur kalian para “pejuang jarak.”

Apr 14. 1 Notes.

Hidup Harus Tahu Batasan

Hidup itu haruslah tahu batasan. Dan, yang namanya batasan itu pastilah bikin kesal. Batasan ini tidak ada bedanya sama peraturan. Bedanya, peraturan batasan ini tidak mengikat seperti peraturan. Kalau batasan ini dilanggar ya tidak apa-apa. Lagian yang merasakan kerugian karena melewati batasan ini ya, diri kita sendiri saja, tidak seperti para pelanggar peraturan yang juga bikin rugi orang lain..

Batasan-batasan ini dibuat oleh diri kita sendiri atau bisa juga ditentukan sama orang lain. 

Saya sendiri juga memiliki beberapa batasan. Salah satunya adalah untuk membatasi diri saya untuk tidak tidur lebih di atas jam satu pagi. Kalau lebih dari jam segitu, beberapa hari ke depan, saya pasti akan terus insomnia. Bahkan bisa tidur sampai jam tiga pagi. Alhasil saya bangun kesiangan. Padahal dari pagi buta saya sudah harus kembali bekerja. Seringkali saya melanggar batasan ini.

Ada juga teman saya yang perutnya itu tidak begitu tahan makan pedas. Meski begitu, dia kerap melanggar batasan itu. Dia hajar terus saja makan pedas. Selesai makan baru deh sakit perut.

Saya dan teman saya itu adalah contoh yang tak patut ditiru. Meski begitu, saya yakin kamu pernah melanggar batasan dalam hidup kamu.

Pelanggaran itu penting juga lho! Ada saudara saya yang pas kecil mempunyai amandel. Kalau dia kebanyakan makan es krim atau minum air es, amandelnya itu bisa bengkak. Karena dia bandel, es krim dan air es itu tanpa henti terus saja ditelannya. Eh, entah apa sebabnya, amandelnya itu hilang sendiri. Karena melanggar batasan, dia malah bisa sembuh dari penyakitnya.

Setiap manusia pastilah memiliki batasan karena keterbatasan dirinya.Tapi, percayalah selalu kalau batasan itu juga bisa dilampaui.

Walau begitu, melanggar batasan itu harus tahu diri juga sih. Kalau umpamanya suara kamu jelek, dan kamu tahu kalau gara-gara mendengarkan suara kamu, orang sekampung bisa nggak nafsu makan sampai seminggu. Ya, lebih baik kamu jangan bernyanyi. Hadapi saja batasan kamu itu, jangan coba-coba untuk melewatinya.

Saya sendiri sering melewati batasan-batasan yang saya tetapkan sendiri atau ditetapkan oleh orang lain. Saya ingin tahu apakah saya bisa melewati batasan itu. 

Beberapa batasan berhasil saya lewati. Lebih banyak lagi gagal sih. Keberhasilan melewati batasan itu  menjadi pembelajaran, bahwa kalau saya mau, ya, saya bisa. Untuk kegagalannya, saya mempelajari bahwa ada beberapa batasan yang memang sebaiknya tidak dilanggar untuk kebaikan saya sendiri.

Andai saja saya dapat tahu batasan mana yang dapat saya lewati, dan batasan mana yang sebaiknya dibiarkan tetap menjadi batasan, maka hidup saya pastinya enak sekali. Sayangnya, dalam hidup saya harus mencobanya dulu untuk mengetahui apakah saya bisa atau tidaknya.

Seperti teman saya yang tetap saja makan pedas walau perutnya nggak kuat. Ternyata, dia memang tidak bisa melewati batasan makan pedas. Dia akhirnya belum lama ini harus menginap di rumah sakit karena maagnya terkena infeksi. Katanya sih dia berjanji akan mulai menjaga diri dari godaan makanan-makanan pedas. Semoga saja janjinya itu tidak janji para caleg yang hari ini berjajnji besok sudah lupa.

Saya percaya langit adalah batasan yang sesungguhnya dalam hidup ini. Dan, ingatlah selalu bahwa di atas langit masih ada langit. Jadi sebenarnya batasan itu bisa saja dilampaui. Masalahnya, bisakah kita melewati batasan itu? Atau, lebih baik duduk dengan manis saja tanpa perlu melewati setiap batasan. Hidup itu pilihan. Sayang, tak ada bocoran kunci jawaban terhadap pilihan tersebut.

Apr 07. 0 Notes.

Selalu Ada Esok Hari

"Kalau memang bisa dikerjakan besok, kenapa harus dikerjakan hari ini." Itulah prinsip yang dulu saya anut. Sampai sekarangpun saya terkadang juga masih begitu. Tapi Dibanding dulu, sudah berkurang jauh sekali.

Sekarang semua hal esok hari kalau bisa dikerjakan hari ini maka saya akan kerjakan hari ini. Saya tidak lagi suka menunda sesuatu. Karena saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bisa saja esok hari saya mendadak sakit, atau besok tiba-tiba ada keperluan yang tidak bisa ditunda. Selalu ada kejutan dalam hidup yang tidak bisa dihindari.

Penyakit saya yang suka “membesokkan apa yang bisa dikerjakan hari ini” telah banyak membuat banyak penyesalan dalam diri saya. Seperti ketika ada seorang teman yang ingin mengenalkan saya dengan mantan pacar yang baru saja putus dengannya. Oke, mungkin ini terdengar agak aneh. Tapi kata dia, mereka berdua putusnya baik-baik dan akhirnya menjadi teman. 

Saya yang agak segan dan malu-malu anjing akhirnya menolak tawaran teman saya itu. Padahal teman saya itu udah bilang kalau kami berdua itu cocok banget. Apalagi mantannya yang cantik itu tidak menilai seseorang itu dari tampangnya kok. Dalam olokan memang bisa ada pujian yang terselip bagai upil di hidung.

Besoknya setelah menolak tawaran itu, saya menyesal. Kenapa tidak kenalan dulu aja. Ya, kalau nggak cocok buat jadi pacar kan bisa jadi teman. Saat itu saya lupa pepatah tiongkok yang mengatakan: punya seribu teman lebih baik dari pada punya satu musuh.

Dengan masih malu-malu anjing dan sedikit perasaan canggung, saya akhirnya bilang ke teman saya, kalau mau dikenalkan sama mantannya itu. Dan dengan santainya dia menjawab, “yeee, kemarin bilangnya nggak mau. Sekarang mau. Besok deh ya. Gw lagi sibuk nih…”

Besokpun menjadi besok dan besoknya lagi. Sampai teman saya itu menikah dan sekarang telah memilki anak, saya tidak pernah dikenalkan sama mantannya itu.

Mantannya itu sampai sekarang belum menikah. Saya pernah menyapanya langsung sekali waktu melalui pesan ke akun Facebook-nya. Dan, pesan itu tidak pernah terbalaskan sampai tulisan ini dibuat. 

Andai saja saat itu saya sudah mau dikenalkan dan tidak menunggu esok hari dan teman saya juga tidak menunggu esok hari juga, perjalanan hidup saya mungkin bisa jauh berbeda. Bisa saja saya sudah menikah dengan wanita itu. Atau, bisa saja kami malah menjadi teman baik. Dan, bisa juga malah menjadi musuh, karena ketika pacaran kami putus dengan berantem besar. Bisa saja. 

Ada juga pekerjaan yang pernah saya tunda-tunda mengerjakannya, malah jadi kacau balau karena baru dikerjakan ke esokan harinya. Dan itu tidak satu dua kalinya terjadi.

Sebagai manusia, kadang kita baru belajar sesuatu dari kegagalan. Banyak kegagalan yang saya alami, ya, karena menunda-nunda.

Segala sesuatu memang ada baiknya tidak ditunda-tunda. Kalau sakit perutnya hari ini, ya, jangan nunggu besok untuk buang hajatnya. Bayangkan kalau ditunda, rasanya menahan sakit perut itu sangatlah nggak enak.

Dulu saya selalu berpikir selalu ada esok hari. Padahal kalau esok hari tidak ada dan hanya hari ini yang tersisa, apa gunanya lagi menunda-nunda.

Mar 24. 1 Notes.

Dimanfaatkan Cinta

Setiap orang pasti pernah dimanfaatkan oleh cinta. Ada yang sampai terpontang-panting hidupnya karena cinta. Ada juga yang sukses jadi pemanfaat cinta itu sendiri.

Dulu, jaman masih kuliah, ada teman saya yang datang dari keluarga berada. Anaknya juga baik, sopan banget, dan juga setia kawan. Untung saja Tuhan itu adil, kesempurnaan teman saya itu berkurang karena tampangnya yang biasa-biasa aja: ganteng nggak, jelek juga belum.

Kami yang kuliah dijurusan teknik memang kekurangan wanita. Jadilah kami dulu sering mengincar para wanita dari jurusan lain. Pada suatu hari teman saya ini jatuh hati pada anak jurusan psikologi yang memang terdiri dari banyak wanita dibandingkan prianya.

Perkenalan keduanya ini karena ada mata kuliah umum yang menggabungkan kelas anak teknik dan psikologi. Jadilah keduanya berkenalan.

Wanita anak psikologi ini memang cantik luar biasa. Teman saya itu mulai pendekatan dengan sistem antar jemput kuliah. Gempor banget nih teman saya. Walau dia lagi nggak ada kuliah pagi, tapi demi sang pujaan hati dia rela bangun pagi dan menjemput wanita itu. Gokilnya lagi, jarak rumah wanita itu ke kampus cuma sekitar 1 kilometer. Sedangkan jarak rumah teman saya ke kampus itu ada kali 8 kilometer-an. Jadi teman saya itu selama proses pendekatan hampir setiap jemputnya saja menempuh jarak 10 kilometerlah kurang lebih. 

Untuk bagian antarnya beda lagi hitungan jaraknya, karena sebelum pulang keduanya biasa nongkrong-nongkrong dulu. Saya dan beberapa teman yang lain biasa suka ikutan juga nongkrong sama mereka.

Saya tidak ingat berapa lama proses pendekatan itu berlangsung. Yang pasti mereka berdua akhirnya jadian juga. Ya, kalau sampai nggak jadian sih kampret bangetlah nasib teman saya itu.

Sebagai anak kuliah, melihat teman ada yang jadian, pastilah kami langsung nodong minta ditraktir. Jaman kuliah yang namanya traktiran itu kayak pergi ke kondangan tanpa perlu ngasih amplop. Barokah banget lah!

Teman saya ini membuktikan bahwa cinta memang tak memandang tampang. Melainkan ketulusan hati teman saya serta kemauannya untuk rela berkorban. Kisah cinta mereka berdua berakhir bahagia, ya, setidaknya untuk dua bulan saja. Setelah itu putus karena sang wanita berpaling pada pria lain yang sama baiknya dengan teman saya itu tapi punya tampang dan body yang lebih oke.

Saya yang waktu itu lagi numpang di mobil dia buat makan di luar kampus, agak kaget dengar cerita dia (lebih tepatnya sih pura-pura kaget, soalnya saya udah nebak kalau palingan mereka pacaran itu cuma bertahan 6 bulan. Eh, ini ternyata lebih cepat.) Sebagai teman, saya relakan waktu makan siang itu tidak hanya menerima asupan makanan, tapi juga masukan curhatan patah hati. 

Ia bercerita kalau selama pacaran merasa dimanfaatkan saja. Hampir setiap hari jadi supir, bahkan kalau nyokap pacarnya itu mau ke mana-mana, dia juga diminta untuk mengantarkan. Kalau makan atau nonton, dia terus yang ngebayarin. Ngedengerin curhatan dia, saya jadi bingung sendiri. Setau saya dari pas pendekatan, itu wanita memang dimanjakan dengan hal-hal tersebut. Jadi, menurut saya wajar donk kalau pas pacaran wanita itu tetap memperlakukan dia sama seperti. 

Cerita teman saya itu menjadi refleksi kehidupan pendekatan saya terhadap seorang wanita. Saya yang sudah sah dan pasti memilki tampang yang biasa-biasa saja, memang memerlukan usaha lebih dalam mendekati seorang wanita.

Belum lama ini ada seorang wanita yang sedang saya dekati. Wanita yang satu ini cantik, diajak ngobrol juga seru, dandanannya juga kece. Pokoknya oke punya deh!

Sama seperti teman saya itu, saya juga melakukan antar jemput. Cuma bedanya saya tidak antar jemput dari rumah ke kampus, karena wanita yang satu ini tuh sudah anak kantoran bukan kuliahan. Biasanya saya jemput ke kantornya dia. Tidak sering juga sih, palingan seminggu dua kali. Kalau antar palingan nganterin ke tempat dia mau belanja atau mau ketemu temannya. Wanita yang satu ini memang tidak merepotkan dan neko-neko. 

Ribetnya, wanita yang satu ini adalah dia itu jinak-jinak merpati: kadang memberi respon terhadap saya, kadang bersikap acuh. Kalau ditelpon kadang angkat kadang nggak. Kalau di BBM, walau sudah bertanda “R” kadang pesan itu tidak dibalas sama dia. Walau begitu, dia beberapa kali malah menanyakan kabar saya terlebih dahulu, bangunin untuk Sholat Subuh. Sikap dia ini memang bikin bingung, atau memang sayanya aja yang bodoh dalam masalah pendekatan ya…

Setelah sekitar dua bulan melakukan pendekatan dengan dia, saya akhirnya menyerah. Saya tidak bisa bertindak seperti teman saya itu, yang pantang mundur mengejar pujaan hatinya. Ya, teman sayanya aja yang lagi sial mendekati orang yang salah. Kalau saja dia bertemu dengan orang yang tepat, maka perjuangannya itu pastilah berbuah emas.

Dan sesungguhnya, apa yang dilakukan oleh teman saya untuk mantan pacarnya itu bukanlah pengorbanan tanpa arti. Mantannya saja yang bodoh dan  menyia-nyiakan orang yang mau mencintainya sebegitu besar. Semoga kamu, saya, dan gebetan kamu tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang bodoh itu.

Mar 17. 1 Notes.
Nice design!

Nice design!

(Source: pppaperrr)

Saat Polisi Datang Merazia

Setiap Juma’t malam saya dan beberapa orang teman suka berkumpul. Mengingat dompet kami yang pas-pas saja, kami suka berkumpul di kafe-kafe tempat ngopi saja atau malah di kedai retail yang pakai angka tujuh dan sebelas. Yang penting kami bisa saling bertukar cerita tanpa perlu menguruk isi dompet.

Pada suatu Juma’t, yang entah dari siapa ide itu keluar. Kami bersepakat Juma’t depan akan mencoba sebuah club yang lagi happening di daerah SCBD, Jakarta. 

Dari foto-foto yang beredar di dunia maya, tempat itu terlihat keren. Wanita-wanita yang beredar di sana juga luthu-luthu. Jadilah kami memutuskan untuk pergi ke sana. Dompet boleh cetek, tapi aksi harus tinggi. Walau mau gaya, kami sudah berjanji palingan hanya beli minuman ringan atau beer saja dan setelah itu pulang. Yang penting sudah pernah ke sana.

Pada hari Juma’t yang sudah disepakati, kami pun pergi ke tempat itu. Dari yang cuma mau berempatan, akhirnya yang pergi jadi 8 orang. Ada saudara dari teman saya yang mau ikutan ke tempat itu juga. Saudaranya ini juga mengajak teman dan rekan kerjanya.

Saat tiba di depan club itu, sudah terlihat wanita jelita yang masih menunggu teman-temannya yang belum datang. Dalam bayangan saya, di dalam club itu tentunya lebih banyak lagi kaum hawanya. 

Sayangnya semua khayalan saya itu sirna saat sudah berada di dalam club. Tempat itu ternyata biasa saja. Tidak sekeren foto-fotonya yang beredar di dunia maya. Wanita-wanitanya juga hanya sedikit banget. Dari 20 pria, wanitanya cuma ada 2 orang saja. Itupun sudah datang sama pacarnya. Tak ada harapan untuk pria single mendapatkan pasangan di club ini.

Karena kehadiran orang-orang tambahan yang ternyata memang lagi mau party, jadilah kami akhinya buka meja di tempat itu. Padahal niat awalnya cuma mau nongkrong-nongkrong aja di meja bar.

Baru ada sekitar satu jam kami duduk-duduk, club itu didatangi segerombolan Polisi yang mengadakan razia narkoba. Polisnya ini beneran banyak, sampai ada bagian humas kepolisian yang datang mebawa kamera untuk dokumentasi. Polwan juga ada yang ikutan. Bisa dikatakan 25% isi club itu mendadak dipenuhi oleh Polisi.

Para Polisi ini untuk sebagian orang di club itu dianggap layaknya petugas keamanan club saja. Yang pasti pesta tetap jalan terus.  Mulut tetap terbuka untuk menegak minuman, dan kaki terus berdansa mengikuti irama musik.

Beda dengan saya, rasanya jengah saja melihat Polisi ini berkeliaran. Apalagi mereka secara random memeriksa orang-orang yang memiliki tampang mencurigakan. Ini beneran lho, walau mabok, tapi tampangnya baik-baik aja, maka orang itu bisa lolos dari pemeriksaan. Tapi kalau tampangnya mabok tapi aslinya nggak mabok, bisa kena pemeriksaan. Hal ini terjadi pada teman kami yang minum aja belum, tapi udah kena tes urin oleh pihak kepolisian, cuma gara-gara tampang dia mencurigakan.

Saya tidak tahu apakah pihak kepolisian berhasil menemukan orang yang pakai narkoba di tempat itu. Soalnya saya sudah parno sendiri, takut tiba-tiba diperiksa terus saya ternyata dijebak oleh Polisi nakal. Soalnya cerita penjebakan seperti itu sudah sekali ramai beredar.

Para aparat kepolisian ini tidak satu jam dua jam saja berada di club tersebut. Mereka berjaga sampai pukul tiga pagi. Dan secara berkala mereka mengitari club untuk mencari orang yang menggunakan narkoba.

Saya dan beberapa teman lain yang pada awalnya mau pulang jam 1 pagi, akhirnya terpaksa nunggu sampai Polisi-polisi itu bubar dulu. Karena, malas aja nanti bisa-bisa diperiksa pas mau keluar.

Setelah selesai berpesta, saat dalam perjalanan pulang, kami berjanji, kalau memang tidak biasa nongkrong ke club, lebih baik gak usah gaya-gayan ke club. Kecuali dapat ajakan untuk party gratis —tak baik menolak gratisan, mubazir katanya. Nikmati saja hidup yang memang sudah indah, tak perlu melihat kebahagiaan orang lain dan coba untuk menikmatinya.

Yang indah bagi orang lain belum tentu indah bagimu. Perspektif itu tak sama, tak pernah sama.

Mar 10. 1 Notes.

Galau Online Karena Cinta

Saya punya beberapa teman yang kalau lagi galau karena masalah percintaan langsung aktif di akun sosial media miliknya. Biasanya sih teman-teman saya ini lebih banyak galau online-nya di Path ya. Soalnya teman-teman saya memang udah mulai agak-agak meninggalkan Twitter atau juga Facebook. Kalaupun aktif di Twitter dan Facebook, itu karena postingan di Path-nya dibuat terhubung pada kedua sosial media tersebut.

Bawel banget di Path-nya. Padahal sebelumnya itu akun adem ayem aja. Sehari sekali aja belum tentu update status. Tapi kalau lagi galau, sehari bisa kali update status sampai 10 kali.

Update statusnya kalau di Path pasti lagi dengerin lagu-lagu galau. Atau posting foto-foto quote yang bisa bikin orang lain kasih icon “sad”. Di Twitter juga suka nge-retweet kicauan dari akun-akun galau. 

Ada juga teman lain yang kalau lagi galau malah posting foto dia lagi liburan, mulai dekat sama gebetan baru. Terus juga posting foto-foto lagi nongkrong di kafe sama teman-temannya. Ada juga yang model begini.

Cara orang untuk melewati kesedihan itu memang bisa dengan larut terbawa kesedihan atau malah melewatinya dengan bersenang-senang.

Yang sedih itu biasanya masih keingetan sama mantannya, masih pengen balik tapi belum bisa. Kesedihan itu dituangkan dengan mendengarkan lagu-lagu sedih, nonton film drama yang menguras air mata, atau bisa juga dengan berolahraga.

Entah bagaimana perasaan mantannya yang pastinya juga terhubung sama teman saya itu melalui Path. Apa dia ikutan merasa sedih juga melihat mantan pacarnya itu lagi sedih setelah putus atau malahan merasa senang karena merasa dirinya masih dibutuhkan?

Terus yang melewati masa galau dengan bersenang-senang itu berarti senang? Nggak juga! Menurut saya, yang melewati kegalauan cinta dengan bersenang-senang itu adalah yang paling sedih. Mencoba terlihat senang di saat sedih, dah menutupi segala duka dengan tawa itu sulit lho. Muka bisa tersenyum, tapi hati menangis. Macam melihat neng Raisa tersenyum sambil menyanyikan lagu-lagu sendu miliknya (Maafkan kalau perumpamaan saya ini nggak nyambung). Ah, Raisa… Ngopi yuk? Biar abang nanti yang mengobati luka yang kau nyanyikan melalui lagumu.

Tak ada yang lebih mudah kalau sedih dan galau, selain tampil seperti apa adanya aja. Itulah kondisi alami yang sudah seharusnya. Tapi saya tak menyalahkan teman saya yang malahan bersenang-senang pas lagi galau. Setiap orang punya cara sendiri dalam mengobati luka hati. 

Pura-pura senang tapi sebenarnya lagi sedih itu digunakan sama teman saya untuk nunjukin ke mantannya, kalau dia masih baik-baik saja walau mereka sudah putus pacaran. Taktik percintaan tahun jebot yang masih berhasil dipakai pada jaman sekarang.

Kegunaan taktik ini tuh bisa bikin mantan yang udah mutusin atau diputusin jadi merasa sedih dan kehilangan. Intinya sih ingin biar mantan mau ngajakin balikan, dan bukan dia sendiri yang buka omongan sama mantannya. Mau balikan aja ribet amat ya, pakai taktik segala.

Galau online itu sah-sah saja kok, asal nggak lebay. Mau galau dengan sedih atau suka cita yang terserah juga. Yang jangan itu: bersenang-senang di atas kegalauan orang lain. 

Mar 03. 1 Notes.

Hidup Dimulai Di Umur 30?

Entah siapa yang mulai mengatakan kalau hidup itu dimulai saat umur 30 tahun. Apa sebab-musabab ungkapan ini muncul saya sendiri sudah mencarinya, tapi belum bisa menemukan jawabannya.

Akhirnya, untuk menjawab pertanyaan itu, saya membuat teori sendiri. 

Pada umur 30 tahun, kebanyakan orang telah memiliki karir yang baik. Ada juga yang telah membina rumah tangga dan memiliki anak. Di umur segitulah performa seseorang baik pria maupun wanita sedang oke-okenya: tubuh masih bisa diajak bekerja keras, ambisi besar, pengalaman hidup serta bekerja ada, dan jalan berpikir sudah agak matang. Dengan faktor-faktor tersebut, jalan untuk memiliki karir gemilang bisalah dengan mulus digenggam. 

Dibalik segala keindahan orang-orang berumur 30, ada juga kengeriannya, terutama untuk yang belum memiliki pasangan. Pada umur segitu pertanyaan “kapan nih nikah?” makin santer terdengar. Apalagi saat silaturahmi ke rumah keluarga di hari lebaran. Baru aja minal aidin wal faidin, eh, ditanya begituan. Bikin dongkol aja. 

Dari sekian banyak pertanyaan mulai dari: “Apa kabarnya nih?” “Gimana sehat?” “Masih bekerja di tempat yang dulu?” “Puasanya lancar nggak?” Tapi hanya pertanyaan ”kapan nih nikah?” yang paling mudah ditanyakan pada orang-orang berumur 30 yang belum memiliki pasangan. Seakan di atas kepala orang berumur 30 itu ada kalimat bertuliskan, “tanyain kapan dia nikah, buruan tanyain. Biar dia buru-buru nikah. Ayo buruan tanyain!” Padahal mau ditanyain berapa kalipun kalau belum ketemu yang cocok, ya, nggak bakalan nikah jugalah. 

Untuk para wanita, persoalan belum menikah di umur 30 ini lebih membebani dibandingkan kaum pria. Apalagi, kata sahabat saya, kalau wanita sudah berumur 35 tahun itu akan lebih beresiko untuk hamil. Saya tidak tahu dan juga tidak berniat mau cari tahu tentang hal tersebut. Menurut saya, kalau memang Tuhan kasih dia hamil di umur 35 atau malah lebih dari umur tersebut, ya berarti memang itu saatnya dia mengandung. Beresiko atau tidaknya, Tuhan pasti tahu yang terbaik untuk umatnya.

Ada fakta unik di tahun 2014 ini: semua orang yang lahir pada tahun 1984, akan berumur 30 tahun! Jadi, untuk kamu, kamu, dan kamu yang ada di belakang kamu, kalau lahir pada tahun 1984, maka usianya di tahun 2014 ini adalah 30 tahun. Yeay! 30 Tahun!

Saya sendiri secara kebetulan —jangan ditanya di mana letak kebetulannya— juga lahir pada tahun 1984. Tahun di mana Justin Bieber belum dilahirkan, karena Justin Bieber itu kelahiran tahun 1994. Dan juga bukan tahun kelahiran Nabilah Ratna Ayu Azalia a.k.a Nabilah JKT48, karena itu lahir tahun 1999 dengan golongan darah B serta memiliki horoskop: Scorpio. Fak! Kenapa saya jadi ngelantur… 

Oke, kembali ke topik orang-orang berusia 30 tahun. Lebih spesifik lagi, orang itu adalah saya. Ya, di tahun 2014 ini usia saya sudah 30 tahun. Sudah mapankah hidup saya? Belum. Sudahkah saya menikah? Belum.  Tiba-tiba dari langit keluar cahaya yang membelah awan, dan sebuah suara pria agak kewanitaan menggema berkata, “terus lo mau bilang hidup lo dimulai di umur 30 cyinnnn? Hidup lo naas gitu keles!”

Kampret! Ya, bisa dikatakan hidup saya senaas itu. Naas, bukan nanas. Karena kalau nanas masih bisa dibikin selai buat kue Anastar. Ini naas, yang kalau dikasihkan gratis ke orang-orang udah pasti nggak ada yang mau.

Ya, walau naas, tapi inilah hidup saya. Saya percaya kehidupan itu kadang di bawah kadang di atas. Walau ada juga yang mengatakan hidup itu kadang di bawah, kadang di bawahnya lagi. Tapi, lebih baik saya mempercayai yang kadang di bawah kadang di atas.

Seorang motivator ternama yang saya sudah lupa namanya —sumpah ini bukan lupa karena faktor umur ya, pernah berkata, “Saat hidup sedang di bawah bersegeralah untuk naik ke atas. Saat hidup sedang di atas berlama-lamalah di sana, jangan lekas turun ke bawah.”

Saat motivator itu menyampaikan quote dahsyat itu melalui akun Twitter-nya, saya ingin segera me-reply kicauan tersebut: “@motivatorternama Ente jualan obat kuat ya gan? Bisa COD gak?” Fak! Untung saya segera sadar, dia bukan lagi jualan, tapi lagi memberi inspirasi agar orang yang kehidupannya sedang berada di bawah mau segera berusaha naik ke atas. 

Hidup itu memang harus diperjuangkan. Baik itu di umur 30 atau di umur sebelum dan sesudahnya. Dan, saya masih terus berjuang untuk hidup saya. Terus dan terus tanpa pernah menyerah.

Jika memang umur 30 ini adalah awal permulaan saya kembali ke garis start, semoga saja saya bisa sampai ke garis finish dengan gemilang. 

Yang pasti, saya merasa bahagia masih bisa diberikan kesempatan sampai ke umur 30 tahun ini. Semoga juga sampai ke umur-umur lain sesudah umur ini. 

Sahabat-sahabat saya juga banyak memberikan kejutan untuk memperingati ulang tahun saya kali ini. Tak ada kado yang lebih indah selain ucapan ulang tahun yang diberikan lewat jabatan erat dan pelukan hangat seorang sahabat. 

Tulisan ini dibuat setelah saya makan malam di sebuah warung nasi uduk di daerah Cikini, Jakarta Pusat. Di warung yang terletak pada sebuah tikungan ke arah jalan Surabaya itu, ada seorang penyanyi organ tunggal berusia sekitar 40an. Suaranya fales, tampangnya biasa saja, dan yang kasih saweran ke dia juga nyaris tak ada. Walau begitu, dia terlihat bahagia saat bernyanyi. Riak muka membawa keteduhan sendiri bagi para penontonnya.

Nada organ tunggalnya yang carut-marut mengiringi suara falsnya memainkan lagu lama milk Koes Plus. Dengan tersenyum bahagia dia berkumandang, “buat apa susah, buat apa susah, lebih baik kita bergembira…”

Di umur 30 tahun ini, sudahkah saya bahagia? Ya, saya bahagia.

Feb 23. 0 Notes.
Tararengkyu untuk kuenya teman-teman di kantor. Hidup dimulai di umur ini katanya. – View on Path.

Tararengkyu untuk kuenya teman-teman di kantor. Hidup dimulai di umur ini katanya. – View on Path.

Feb 19. 0 Notes.
next »